Wednesday, July 8, 2015

Orangtua dan Guru

JENIS pendidikan yang baik dimulai dengan pendidik, yang harus memahami dirinya sendiri dan bebas dari pola pikir buatan; untuk menjadi pendidik yang bagaimana, pola pikir yang ia berikan. Apabila ia tidak dididik dengan benar, apa yang dapat ia ajarkan kecuali pengetahuan mekanis yang sama dengan apa yang mendidiknya? Maka dari itu, masalahnya adalah bukan anak, namun orang tua dan guru; masalahnya adalah mendidik pendidik.

Apabila kita sebagai pendidik tidak memahami diri kita sendiri, apabila kita tidak memahami hubungan kita dengan anak namun hanya sekedar menjejali anak tersebut dengan informasi dan membuatnya lulus ujian, bagaimana mungkin kita dapat menghasilkan jenis pendidikan yang baru? Murid adalah untuk dipandu dan dibantu; namun apabila pemandu, pembantu itu sendiri bingung dan dangkal, bersifat nasionalistik dan bergantung pada teori, maka secara alami murid tersebut akan menjadi orang biasa, dan pendidikan menjadi sebuah sumber kebingungan dan percekcokan yang lebih dalam.

Apabila kita melihat kebenaran dari hal ini, kita akan menyadari seberapa penting kita mulai mendidik diri kita sendiri dengan benar. Khawatir tentang ‘mendidik ulang diri kita sendiri’ adalah jauh lebih penting daripada khawatir
tentang kesejahteraan masa depan dan keamanan anak.
Mendidik pendidik – yakni, agar membuat dirinya memahami diri sendiri – adalah salah satu usaha yang paling sulit, karena hampir semua orang telah dihablurkan di dalam sebuah sistem pemikiran atau pola tindakan; kita telah menyerahkan diri kita sendiri kepada ideologi tertentu, sebuah agama, atau kepada sebuah standar tingkah laku tertentu. Itulah mengapa kita mengajari anak tentang apa yang harus dipikirkan dan bukan tentang bagaimana cara berpikir.

Selain itu, orang tua dan guru sebagian besar disibukkan dengan konflik dan kesedihan. Kaya atau miskin, hampir semua orang tua terhanyut di dalam kekhawatiran dan kesengsaraan. Mereka tidak sungguh-sungguh khawatir tentang penurunan moral dan sosial yang terjadi saat ini, namun hanya menginginkan anak-anak mereka ‘diperalati’ agar sukses di dunia ini. Mereka cemas terhadap masa depan anak-anak mereka, ingin sekali anak-anak mereka terdidik agar memegang jabatan-jabatan yang aman, atau agar menikah dengan bahagia.

Berlawanan dengan apa yang dipercaya oleh kebanyakan orang, hampir semua orang tua tidak menyayangi anak-anak mereka, meskipun mereka berkata bahwa mereka menyayanginya. Apabila orang tua benar-benar menyayangi anak-anaknya, maka tidak akan ada penekanan yang terletak pada keluarga dan bangsa sebagai kebalikan dari kesatuan (whole), yang menciptakan pembagian-pembagian sosial dan ras di antara manusia dan menimbulkan perang dan kelaparan. Merupakan hal yang sangat luar biasa bahwa, ketika orang-orang dilatih sekeras-kerasnya agar menjadi pengacara atau dokter, tetapi mereka dapat menjadi orang tua tanpa harus menjalani pelatihan apa pun agar dapat bisa menjalankan tugas orang tua yang penting ini.

Lebih sering daripada tidak, keluarga, dengan tujuan-tujuan yang terpisah, mendorong adanya proses isolasi total, dengan demikian menjadi sebuah faktor yang merosot di dalam masyarakat. Hanya ketika ada cinta dan pengertian, maka dinding-dinding isolasi dapat dirobohkan, lalu keluarga tidak lagi menjadi sebuah sirklus yang tertutup, seseorang pun bukan tahanan atau pun pengungsi; maka orang tua berada di dalam kerukunan, tidak hanya dengan anak-anak mereka, tetapi juga dengan tetangganya.

Terhanyut di dalam masalah mereka sendiri, banyak orang tua mengalihkan tanggung jawab atas kesejahteraan anak-anaknya kepada guru; dan merupakan hal yang penting bahwa pendidik juga perlu membantu pendidikan orang tua. Pendidik harus berbicara kepada orang tua, menjelaskan bahwa keadaan dunia yang bingung mencerminkan kebingungan orang tua itu sendiri.

Pendidik harus menjelaskan bahwa kemajuan ilmiah tidak akan menghasilkan sebuah perubahan radikal terhadap nilai-nilai yang ada; bahwa pelatihan teknis, yang kini disebut sebagai pendidikan, belum memberikan kebebasan kepada manusia atau membuat manusia lebih bahagia; dan bahwa mengkondisikan murid agar menerima lingkungan yang ada tidaklah aman bagi kecerdasan mereka. Pendidik harus memberitahukan kepada orang tua apa yang sedang ia upayakan untuk anak mereka, dan bagaimana ia mengaturnya. Pendidik harus membangun kepercayaan orang tua, tidak dengan menggunakan wewenang seperti seorang spesialis yang berurusan dengan orang awam yang bodoh, namun dengan membicarakan temperamen, kesulitan, bakat anak, dan seterusnya.

Apabila guru mengambil minat nyata terhadap anak sebagai seorang individu, maka orang tua akan memiliki kepercayaan terhadap guru tersebut. Dalam proses ini, guru mendidik orang tua sebagai guru itu sendiri, sekaligus belajar dari orang tua tersebut. Pendidikan yang benar adalah sebuah tugas mutual yang menuntut kesabaran, pertimbangan dan kasih sayang. (*)

Tuesday, July 7, 2015

Revolusi Memakan Anak Kandungnya Sendiri (bagian 2)


Wikana adalah tokoh yang paling tidak dikenal dalam sejarah Indonesia. Padahal pada peristiwa pencetusan Proklamasi 1945 peran beliau yang paling penting karena berkat koneksinya di Angkatan Laut Jepang atau Kaigun, Proklamasi 1945 bisa dirumuskan di rumah dinas Laksamana Maeda di Menteng yang terjamin keamanannya. Lalu Wikana mengatur semua keperluan Pembacaan Proklamasi di rumah Bung Karno di Pegangsaan, ia juga tegang saat melihat Bung Karno sakit malaria pagi hari menjelang detik-detik pembacaan Proklamasi. Wikana kasak kusuk ke kalangan militer Jepang untuk tidak mengganggu jalannya upacara pembacaan teks proklamasi. Setelah kemerdekaan jalan hidup Wikana sangat rumit, ia dianggap terlibat peristiwa Madiun 1948, namun berhasil lepas dari kejaran tentara. Bersama dengan pejuang-pejuang dari Nasionalis sayap kiri ia menghilang dan baru kembali setelah DN Aidit melakukan pledoi terhadap kasus Madiun 1948 yang mulai digugat oleh Jaksa Dali Mutiara pada 2 februari 1955. Namun revitalisasi PKI ditangan DN Aidit membuat Wikana tersingkir dan dianggap bagian dari golongan tua yang tidak progresif, ini sama saja dengan kasus penyingkiran kaum komunis ex Digulis oleh anak-anak muda PKI, karena tidak sesuai dengan perkembangan perjuangan komunis yang lebih Nasionalis dan mendekat pada Bung Karno. Terakhir Wikana tinggal di daerah Simpangan Matraman Plantsoen dalam keadaan miskin dan sengsara karena tidak mendapat tempat di PKI dan diisolir oleh Aidit. Beruntung Waperdam Chaerul Saleh pada tahun 1965 menarik Wikana menjadi anggota MPRS. Pada saat penangkapan-penangkapan setelah kejadian GESTAPU, Wikana hilang begitu saja. Sampai sekarang tidak jelas juntrungannya.

Lalu bagaimana dengan Hatta?, Hatta menjadi Wakil Presiden dan dilantik bersama Bung Karno. Hatta memiliki peran besar pada revolusi bersenjata 1945-1949 karena Bung Karno tidak disukai Belanda sangat membenci Bung Karno, dan dianggap Bung Karno tak lebih dari Quisling, tokoh kolaborator Norwegia yang berkhianat dan membantu Nazi, Bung Karno dianggap membantu rezim fasis Jepang selama pendudukan militer Jepang 1942-1945 namun Hatta dan Sjahrir disukai Ratu Belanda karena itulah kedua tokoh ini yang paling sering berunding dengan Belanda. Hatta melakukan restrukturisasi partai-partai politik dan militer. Restrukturisasi militer Hatta memiliki dampak paling luas terhadap perkembangan sejarah Indonesia, terutama sekali berjaraknya militer rasional ciptaan Hatta-AH Nasution dengan sentimentalisme patriotik Sukarno. Selain itu restrukturisasi militer Hatta memunculkan peristiwa politik paling kontroversial sepanjang era revolusi kemerdekaan, peristiwa Madiun 1948. Orang-orang komunis menuduh Hatta terlibat pada perjanjian rahasia red drive proposal antara pemerintah AS dengan RI untuk membendung komunisme di Indonesia, dengan imbalan AS akan mendukung perjuangan diplomatik Indonesia baik di PBB maupun forum-forum perundingan dengan Belanda. Red Drive Proposal ini dianggap sebagai awal mula munculnya peristiwa Madiun yang berakibat dibunuhnya tokoh-tokoh politik penting dari garis kiri seperti : Amir Sjarifudin, Musso, Suripno dll.

Setelah penghancuran PKI dan Front Demokrasi Rakyat, karir politik Hatta semakin cemerlang ia dipercaya pemerintah RI menjadi penandatangan perjanjian KMB 1949 dan pengakuan kedaulatan RI atas Indonesia 27 Desember 1949. lalu Hatta dengan baik mengatur formasi kabinet, bersama dengan Sri Sultan HB IX, Hatta memodernisir TNI. Setelah Pemilu 1955, karir politik Hatta menurun, ini berbanding terbalik dengan karir politik Bung Karno yang menanjak ditunjang mulai kuatnya PKI revitalisasi Aidit 1954 dan mulai mendapatnya dukungan militer terhadap Bung Karno seiring tidak puasnya kerja parlementer. Hatta menolak konsep-konsep politik Bung Karno, lalu hubungan itu merengang, pada tahun 1956 Hatta mengundurkan diri, awalnya Bung Karno menolak pengunduran diri Hatta, tapi akhirnya ia menandatangani surat pengunduran diri Hatta. Mundurnya Hatta membuat kecewa banyak perwira militer non Jawa yang notabene juga anti PKI. Protes terhebat adalah ketika PRRI mengultimatum agar Dwitunggal Sukarno-Hatta kembali lagi dan pemerintah Jakarta jangan sampai jatuh ke tangan komunis, atau pemberontakan pecah. Akhirnya pemberontakan PRRI pecah diikuti dengan gerakan Permesta. Kolonel Ahmad Yani yang menyelesaikan kasus PRRI dengan operasi 17 Agustus-nya. Praktis setelah PRRI nama Hatta hilang dari peredaran, ia hanya disebut dalam upacara proklamasi sebagai ko-proklamator. Nasibnya sebagai ko-proklamator menyelamatkan nasibnya karena dengan itu rezim Sukarno tidak berani menjebloskan Hatta ke penjara, ini berbeda dengan nasib Sjahrir. Konon kabar yang beredar dari versi buku-buku sejarah (Versi PKI terlibat dalam Gestapu) Hatta dimasukkan ke dalam tokoh yang harus dibunuh pada malam jahanam 30 September 1965. Namun DN Aidit menolak Hatta dijadikan sasaran pembunuhan. Mungkin Aidit sungkan pada Hatta, walaupun Aidit pernah mendakwa habis-habisan Hatta pada pengadilan kasus Madiun tahun 1955. Hatta tetap dipandang sebagai guru politiknya, karena Hatta sering mengajar anak-anak muda pergerakan pada Markas Pemuda Menteng 61.

Setelah PKI dihancurkan oleh Orde Baru dan Bung Karno digerogoti karir politiknya pelan-pelan. Hatta sempat dimunculkan sebagai calon kuat Presiden RI, bersama dengan AH Nasution. Tapi Hatta tetap menolak sebelum kasus G 30 S jelas, ia bahkan menantang Junta Militer Orde Baru untuk membawa Sukarno ke pengadilan agar peristiwa ini jelas dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Mental Hatta adalah mental khas didikan Belanda, yang menempatkan hukum diatas segalanya. Bersama Deliar Noer Hatta ingin mendirikan PDII (Partai Demokrasi Islam Indonesia) tapi ijin pendirian ditolak Orde Baru. Ketika kekuasaan Suharto mulai mapan setelah peristiwa Malari 1974 menyusul ditangkapinya tokoh-tokoh PSI dan aktivis mahasiswa, muncul kasus aneh Sawito Kartowibowo, eks pegawai Departemen Pertanian yang mengeluarkan dokumen ‘Menuju Keselamatan’ dimana dia mendapat wangsit membenahi Indonesia. Dalam dokumen itu Sawito mengkritik habis-habisan Suharto dan keluarganya, kritik itu disetujui oleh banyak tokoh nasional termasuk Hatta dan Hamka yang menandatangani persetujuannya terhadap isi dokumen itu. Dalam dokumen itu juga Sawito menunjuk Hatta sebagai tokoh yang harus menggantikan Suharto sebagai Presiden RI demi keselamatan bangsa Indonesia. Suharto marah bukan main, kasus Sawito dihantam habis-habisan, tapi kemujuran Hatta terhadap bencana politik lagi-lagi terjadi, Suharto tidak berani menyentuh Hatta. Tahun 1980 Hatta meninggal dan Iwan Fals menciptakan lagu yang sampai saat ini masih banyak dihapal oleh generasi muda Indonesia, lagu itu berjudul ‘Hatta’. Bait dalam lagu itu yang menakutkan rezim Suharto adalah : “Terbayang nama seorang sahabat yang tak pernah lepas dari namamu” nama yang dimaksud itu adalah : Sukarno.

Sukarno juga yang menjodohkan Hatta dengan Rachmi Hatta, Hatta bersumpah menolak menikah sebelum Indonesia merdeka. Sumpah ini merupakan reaksi terhadap November Belofte 1918, dimana pemerintah Hindia Belanda menjanjikan kemerdekaan Indonesia pada tahun itu. Pernikahan Hatta sekaligus legitimasi pribadinya terhadap Proklamasi 1945. Beda dengan Sjahrir dan Tan Malaka yang masih ragu pada proklamasi 1945 sebelum melihat dukungan rakyat.

Banyak orang mengenang Hatta sebagai pribadi yang disiplin waktu, gila buku, memiliki humor kering bahkan Bung Karno pernah mengejek Hatta seba
gai pribadi yang membosankan, bukan seperti dirinya yang womanizer dan gampang buat suasana meriah. Tapi dari semua yang dikenang akan pribadi Hatta adalah kesederhanaan, baik kesederhanaan hidup maupun kesederhanaan hati. Anaknya Meutia Hatta baru tahu bahwa Bapaknya pernah menjabat sebagai Wakil Presiden RI, setelah ia diajari sejarah Indonesia di sekolah waktu SD. Sepulang dari sekolah dia bertanya “ Papa, dulu pernah jadi wapres RI, ya? Saya tahu dari guru sekolah” hal ini bisa digambarkan betapa tidak melebih-lebihkan Hatta pada peran sejarah, sampai anaknya sendiri tidak pernah tahu apa yang dilakukannya untuk negara. Hatta dikenal tokoh yang anti korupsi, dia pernah ditugasi oleh Suharto memberantas Korupsi lewat komisi GAK (Gerakan Anti Korupsi) –macam KPK jaman sekarang - saking bersihnya dan hati-hati dalam mencari harta, ia menjadi sangat miskin secara keuangan. Bayar listrik saja sudah berat, uangnya hanya dari uang pensiun Wapres yang nilainya nggak seberapa. Mendengar Hatta kesulitan bayar uang listrik dan air, Ali Sadikin gubernur Jakarta pada waktu itu membebaskan Hatta untuk membayar listrik dan air PAM. Keinginan Hatta yang tidak keturutan saat usia senjanya ialah membeli sepatu Bally dari kulit hitam.

Hatta tidak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Kalibata. Karena disitu ada koruptor Pertamina baru saja dimakamkan Haji Taher- yang harta korupnya jadi rebutan antara pemerintah RI dengan keluarganya, pemerintah RI diwakili LB Moerdani -, dan menurut Hatta banyak koruptor lain dimakamkan disana, ia tidak mau bergabung bersama Koruptor. Hatta ingin dimakamkan dekat dengan rakyat di Tanah Kusir, Jakarta. Kota dimana ia memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Monday, July 6, 2015

Seputar Pembunuhan Besar-besaran di Rawagede (bagian 1)


Hari itu, Selasa, 9 Desember 1947, pukul 04.00 WIB, ratusan pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Alphons Wijman, mengeledah rumah warga Desa Rawagede.
Mayor Wijman mendengar bahwa Lukas berada di Desa Rawagede, Karawang, Jawa Barat. Desa ini—kini berubah nama menjadi Balongsari—terletak di Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, sekitar 15 kilometer arah timur laut dari ibu kota Kabupaten. Rumah-rumah digeledah, namun yang dicari tidak ada. Pasukan Mayor Wijman memerintahkan penduduk laki-laki berkumpul di tanah lapang untuk ditanya mengenai keberadaan Lukas. Karena tak satu pun penduduk yang memberitahu di mana Lukas, Wijman memerintahkan pasukannya menembak. Lasmi, 83 tahun, menuturkan, ia mendengar para lelaki itu berjejer. “Lalu terdengar tekdung, tekdung, bunyi senapan dikokang, kemudian ditembakkan.”
Lasmi melihat suaminya mati terkapar dengan peluru bersarang di leher. Ini membuat kandungannya yang berumur tujuh bulan keguguran. Setelah itu, Lasmi menden
gar tembakan mortir. Woss...jegur. Saat itu, para perempuan memilih tiarap di tempat tidur. “Rame pisan tembakan. Canon--mortir ya, kata yang tau canon--mortir. Wos-wos..., dari atas. Jegor!” begitu ujar Cawi binti Baisan, janda korban Rawagede yang saat itu berumur 22 tahun.
Ada enam kali tembakan mortir. Menurut laporan Wijman, 12 kiriman mortir itu membakar delapan sampai 10 rumah. Wijnen juga menyebut, saat ia menyerang, nyaris tiada perlawanan. Tembakan mortirnya cuma sempat dibalas sekelompok pria tanpa seragam satu-dua kali dengan karabin. Halangan utama pasukannya yang tengah mengarah ke barat justru tanah berlumpur yang licin. Wijman mengatakan pasukannya hanya berkekuatan 90 personel, diperkuat dengan 2 mortir kaliber 2. Oleh Wijman, pasukan dibagi menjadi tiga grup. Masing-masing berkekuatan 30 orang. Rawagede dikepung dari tiga jurusan: utara, timur, dan selatan.
Pasukan utara dipimpin dua sersannya. Pasukan itu diperkuat satu bren. Pasukan selatan dipimpin seorang sersan mayor. Mereka juga dibekali satu bren. Wijman sendiri memimpin kelompok yang bertugas mengepung kampung dari arah timur. Dibantu dua perwira, grupnya diperkuat sten dan 2 mortir 2. Seluruh operasi itu selesai pukul 13.00. Namun versi lain dari Sukarman, Ketua Yayasan Rawagede, operasi itu berlangsung hingga pukul 16.00. Cawi, 84 tahun, janda korban pembantaian malah berkukuh tragedi itu terjadi menjelang magrib. Ia mengaku keluar pukul 17.00 WIB bersama perempuan-perempuan lainnya mencari suami dan orang tua mereka yang sudah ditemukan bergelimpangan di rumah dan jalanan. Cawi tak mengetahui bagaimana suami dan tetangganya dieksekusi. Ia--seperti para perempuan lainnya--bersembunyi di dalam rumah. Adapun para pria memilih kabur ke luar kampung atau bersembunyi di sungai atau di kolam, seperti Siot, ayah Kadun. Kadun saat itu berusia 10 tahun. Ia melihat bagaimana ayahnya bersembunyi di sungai dekat rumah. “Mukanya diurugin (ditutup) sampah. Tak terlihat oleh Belanda,” ujarnya.
"Tapi Belanda bawa anjing dan anjing itu menggonggong terus. Lama-lama, tempat sembunyi ayah disogok-sogok bayonet," kata Kadun. Ayah Kadun akhirnya muncul dari tumpukan sampah. "Ia dibawa Belanda. Sejak itu, ia tak pernah kembali."
Menurut Sukarman, Belanda melakukan eksekusi dalam kelompok-kelompok kecil, terdiri dari setiap lelaki yang berumur di atas 14 tahun. Masing-masing kelompok terdiri dari 10-30 orang. "Masing-masing kelompok warga yang dikumpulkan oleh pasukan Belanda saat itu tidak saling mengetahui kalau telah terjadi pembantaian. Karena mereka dikumpulkan secara terpisah," ujarnya.
Menurut data Yayasan Rawagede, jumlah warga yang menjadi korban sekitar 431 korban. Tapi, menurut Wijnen, pihaknya cuma menembak mati 150 orang. Penembakan itu bukan tanpa sebab. "Sangat mungkin, karena terprovokasi pihak lain, sejumlah yang tak bersalah jadi korban."
Apa yang terjadi Selasa pagi itu membuat Rawagede bersimbah darah. “Kali Rawagede merah oleh darah. Mayat bergelimpangan,” kata Kadun. “Di mana-mana menangis, meratap, dan meratap.”
Sepanjang tiga hari setelah peristiwa pembantaian itu, kata Kadun, para ibu di Rawagede mencari suami dan anak lelaki mereka. Sejak itu, tak ada lagi lelaki di kampung itu. Mereka—para perempuan itu—bahu-membahu menggotong dan mengubur jenazah.
Dengan alat seadanya—cangkul, golok, dan sendok semen—ibu-ibu itu menggali lubang sedalam sekitar satu meter untuk mengubur jenazah di pekarangan rumah masing-masing. Sejak operasi itu, Rawagede tak sama lagi. Cuma dalam 6 jam (versi Belanda) atau 12 jam (versi keluarga korban), Rawagede menjadi kampung janda. Baru bertahun-tahun kemudian, kampung itu kembali memiliki lelaki dewasa. (*)

Pembantaian di Lumbung Padi Dimulai Tahun 1968



Tanggal 30 September tidak akan pernah lepas dari ingatan peristiwa paling berdarah di negeri ini. Tidak pelak jutaan orang tewas dan diasingkan karena dianggap terlibat dalam Partai Komunis Indonesia (PKI). Satu diantara yang mengalami masa-masa pahit saat itu ialah pemuda asal Kecamatan Pedes, Sarkom (75).
Sarkom yang saat itu masih berusia 19 tahun, harus mengalami pahitnya masa pembuangan di Pulau Buru selama sembilan tahun. Bersama Pramoedya Ananta Toer dan beberapa orang yang dianggap terlibat dalam partai serta organisasi berhaluan kiri, Sarkom juga terpaksa menelan kebingungan karena peristiwa yang hingga kini masih misteri tersebut melemparnya ke negeri antah berantah.
Sarkom bercerita, ia yang saat itu terlibat aktif dalam Organisasi Pemuda Rakyat dan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Paska pembunuhan tujuh Jendral ia dan orang-orang yang aktif dalam partai dan organisasi pemuda, dipanggil oleh Subdempom Karawang tanggal 6 Desember 1965, lalu tanpa melalui persidangan ia dijebloskan ke dalam penjara, setelah itu pada bulan Maret 1966 dipindahkan ke Kebon Waru Bandung selama tiga tahun. Setelah itu, pada tanggal 1 Juli 1969 dipindahkan ke Nusakambangan selama 16 hari, lalu diasingkan ke Pulau Buru 16 Juli 1969 selama sembilan tahun.
Dalam ingatannya yang masih tajam ia mengatakan, dirinya dituduh terlibat dalam pembunuhan tujuh jenderal karena aktif di organisasi Pemuda Rakyat. "Kita dituduh terlibat, padahal semua eksponen partai sama sekali tidak tahu mengenai peristiwa itu. Saya sendiri tahu ada peristiwa 30 S dari Danramil yang kebetulan tetangga," ujarnya.
"Pada waktu itu, karena saya masih anak remaja yang sedang bergelora, bersama dengan seorang teman, siang hari kami menyanyikan lagu 'Mars Sukarelawan'. Lalu Danramil bicara, "jangan enak-enak nyawa kamu sudah diujung senjata". Dari situ saya tahu ada kejadian di Jakarta. Namun semua orang kebingungan, ketika saya di dalam tahanan pun, jangankan saya sebagai anggota biasa dari unsur pemuda, orang-orang partai pun kebingungan, semua tidak tahu apa yang terjadi, dan tidak ada yang mau menanyakan peristiwa yang sebenarnya terjadi di Jakarta," tuturnya.
Pada awal peristiwa 30 September di Karawang hanya terjadi satu kali pembunuhan, yaitu terjadi pada Ketua Barisan Tani Karawang (BTI) Irlam. "Waktu itu bulan Oktober dibunuh di Bunder Kecamatan pedes, kalau sekarang masuk Kecamatan Cibuaya. Setelah Oktober 1965, tragedi kemanusiaan di Karawang justru terjadi pada awal tahun 1968, ketika Panglima Kodam di Jawa barat diganti dari Ibrahim oleh Darsono," tuturnya.
Berbeda dengan daerah lainnya, pembantaian orang-orang yang dianggap berhaluan kiri di Kabupaten Karawang justru terjadi tahun 1968. Sarkom yang dulu aktif dalam Organisasi Pemuda Rakyat dan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) mengungkapkan, hal itu disebabkan ketika peristiwa 30 September 1965 orang-orang eksponen Partai Komunis Indonesia (PKI) di Karawang, sebagian sudah ada yang dipenjara di Subdenpom Karawang, dan sebagian lagi diasingkan ke kantor desa dan kecamatan.
"Dari tahun 1965 sampai 1968, di Karawang cuma terjadi pengrusakan dan pembakaran rumah oleh massa. Baru setelah Panglima Kodam Jawa Barat diganti oleh orangnya Nasution, orang-orang Karawang yang terlibat dalam partai dibantai. Bahkan pembataian yang dilakukan sangat tidak manusiawi," ungkapnya.
Sarkom yang saat kejadian mendekam di Rutan Kebon Waru, mengetahui pembantaian dari seorang kawan yang melihat peristiwa tersebut. Sebelum dihabisi, banyak yang disiksa terlebih dahulu, seperti salah satu organ tubuhnya dipotong dan diarak-arak. Menurutnya, pada saat terjadi pembantaian tersebut banyak orang-orang PKI yang kebingungan. Sebab ketika dijebloskan ke dalam penjara, tidak ada yang diberitahu penyebab dari permasalahan yang terjadi. "Kami dipukuli, disiksa secara tidak wajar agar kami mengakui perbuatan yang tidak kami lakukan sama sekali," ungkapnya.
Ia melanjutkan, memang sebelum tanggal 30 September 1965, Pemuda Rakyat dilatih di Lubang Buaya. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, apabila pemimpin partai ingin menghabisi para jenderal, kenapa harus di tempat dimana para simpatisan Komunis sebelumnya berlatih ketarunaan. "Sangat bodoh apabila pemimpin partai menculik dan membunuh para jenderal di tempat bekas latihan para eksponen partai," tuturnya.
Pada saat latihan di Lubang Buaya, menurutnya idak seorangpun orang partai yang melatih Pemuda Rakyat, bahkan semua orang yang ada di Lubang Buaya selain Pemuda rakyat adalah tentara. "Kami disana dilatih oleh tentara, dan saya pun ketika mau pulang ke Karawang diberi ongkos oleh tentara bukan orang sipil," katanya.
Hingga kini Sarkom masih bertanya-tanya, apakah pada saat penculikan Jenderal Nasution itu lepas atau sengaja dilepaskan oleh pelaku, dan apakah Ade Irma Nasution terbunuh atau sengaja dibunuh. "Hal inilah yang terus menjadi pertanyaan saya sampai saat ini. Sebab pada waktu itu, orang yang paling dibenci PKI adalah Nasution," tuturnya.
Pelurusan sejarah memang mutlak dilakukan, agar negeri ini tidak terus menerus terbelenggu oleh paradigma salah tentang peristiwa 30 September. Sebab, tudingan yang tidak mendasar selama ini disematkan kepada paham yang sebetulnya berada diposisi partai yang kalah perang dalam pergolakan politik '65. (*)

Kujang Senjata Khas Tanah Sunda


KUJANG, dalam kehidupan masyarakat sunda senjata ini memang tidak dapat dipisahkan sebagai bagian dari budaya leluhur. Awalnya fungsinya sebagai peralatan pertanian. Namun, seiring perkembangan jaman kujang mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral.

Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12. Sejak sirnanya Kerajaan Pajajaran sampai sekarang, kujang masih banyak dimiliki oleh masyarakat Sunda, yang fungsinya hanya sebagai benda obsolete tergolong benda sejarah sebagai wahana nostalgia dan kesetiaan kepada keberadaan leluhur Sunda pada masa jayanya Pajajaran, di samping yang tersimpan di museum-museum. Beberapa peneliti menyatakan bahwa istilah Kujang berasal dari kata Kudihyang dengan akar kata Kudi dan Hyang.
Kudi diambil dari bahasa SundaKuno yang artinya senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindaribahaya/penyakit. Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atautempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur(Hazeu, 1904 : 405-406)
Sedangkan Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di Hyang”. Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan.
Kujang sangat identik dengan Sunda Pajajaran masa silam. Sebab, alat ini berupa salah sastu aspek identitas eksistensi budaya Sunda kala itu. Namun, dari telusuran kisah keberadaannya tadi, sampai sekarang belum ditemukan sumber sejarah yang mampu memberitakan secara jelas dan rinci. Satu-satunya sumber berita yang dapat dijadikan pegangan (sementara) yaitu lakon-lakon pantun. Sebab dalam lakon-lakon pantun itulah kujang banyak disebut-sebut. Di antara kisah-kisah pantun yang terhitung masih lengkap memberitakan kujang, yaitu pantun (khas) Bogor sumber Gunung Kendeng sebaran Aki Uyut Baju Rambeng. Pantun Bogor ini sampai akhir abad ke-19 hanya dikenal oleh warga masyarakat Bogor marginal (pinggiran), yaitu masyarakat pedesaan. Mulai dikenalnya oleh kalangan intelektual, setelahnya tahun 1906 C.M. Pleyte (seorang Belanda yang besar perhatiannya kepada sejarah Pajajaran) melahirkan buku berjudul Moending Laja Di Koesoemah, berupa catatan pribadinya hasil mendengar langsung dari tuturan juru pantun di daerah Bogor sebelah Barat dan sekitarnya.
Pemberitaan tentang kujang selalu terselip hampir dalam setiap lakon dan setiap episode kisah serial Pantun Bogor, baik fungsi, jenis, dan bentuk, para figur pemakainya sampai kepada bagaimana cara menggunakannya. Malah ungkapan-ungkapan konotatif yang memakai kujang-pun tidak sedikit. Contoh kalimat gambaran dua orang berwajah kembar; “Badis pinang nu munggaran, rua kujang sapaneupaan” atau melukiskan seorang wanita; “Mayang lenjang badis kujang, tembong pamor tembong eluk tembong combong di ganjana” dsb. Demikian pula bendera Pajajaran yang berwarna “hitam putih” juga diberitakan bersulamkan gambar kujang “Umbul-umbul Pajajaran hideung sawaréh bodas sawaréh disulaman kujang jeung pakujajar nu lalayanan”.
Selain keberadaan kujang seperti itu, di kawasan Jawa Barat dan Banten masih ada komunitas yang masih akrab dengan kujang dalam pranata hidupnya sehari-hari, yaitu masyarakat Sunda “Pancer Pangawinan” (tersebar di wilayah Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak – Provinsi Banten, Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor dan di Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi – Provinsi Jawa Barat). Dan masyarakat “Sunda Wiwitan Urang Kanékés” (Baduy) di Kabupaten Lebak – Provinsi Banten. Dalam lingkungan budaya hidup mereka, tiap setahun sekali kujang selalu digunakan pada upacara “Nyacar” (menebangi pepohonan untuk lahan ladang). Patokan pelaksanaannya yaitu terpatri dalam ungkapan “Unggah Kidang Turun Kujang”, artinya jika bintang Kidang telah muncul di ufuk Timur di kala subuh, pertanda musim “Nyacar” sudah tiba, kujang (Kujang Pamangkas) masanya digunakan sebagai pembuka kegiatan “Ngahuma” (berladang).
Menurut banyak kalangan, Kujang dikenal memiliki keampuhan yang luar biasa. Konon, setiap senjata Kujang, dipastikan berisi khadam-khadam tertentu. Bahkan tidak sedikit orang-orang pintar, yang sengaja mengisi senjata Kujang dengan kekuatan-kekuatan magis. Sehingga Kujang bukan saja menjadi senjata tajam yang mematikan, namun juga memiliki kekuatan dahsyat yang tidak kasat mata. Salah satu kedahsyatan Kujang yang menjadi legenda adalah Kujang Pangarang Kinasihan.
Seperti halnya Kujang pasca abad ke-9, wujud Kujang Pangarang Kinasihan lebih mengarah pada bentuk aslinya, dimana kerap dipergunakan orang pada abad ke-4. Yakni berbentuk lurus panjang dengan sedikit berluk, seperti keris. Konon, bentuk seperti ini adalah wujud asli Kujang. Selain itu, keasliannya bisa dilihat dari tanda bunga melati atau bunga tanjung pada bagian batangnya. (*)

Sanggabuana Ditelantarkan Tiga Kesatuan Pemangku Hutan


Kerusakan parah yang terjadi di puncak gunung Sanggabuana seolah dibiarkan tiga Kesatuan Pemangku Hutan (KPH), yang bertanggung jawab atas keberadaan gunung berketinggian 1.291 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut.
Disebutkan aktivis lingkungan Oepas Korak, Ahmad, berada di tiga wilayah kawasan hutan KPH Purwakarta, KPH Bogor, dan KPH Cianjur, ternyata tidak membuat puncak gunung Sanggabuana terjaga baik, bahkan terkesan ditelantarkan. Padahal, kelestarian gunung tersebut sangat diandalkan untuk mencukupi kebutuhan hidup masyarakat yang tinggal di kaki gunung seperti masyarakat Kampung Jayanti, Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru.
Berdasarkan penelusuran RAKA bersama tim Oepas Korak bebe
rapa waktu lalu, kondisi puncak gunung tertinggi di Kabupaten Karawang itu mengkhawatirkan. Selain disulap menjadi pemukiman plus warung, di beberapa titik terlihat perkebunan kopi. Bahkan, keberadaan 'maqam' di puncak tersebut mendukung kerusakan lebih parah, karena mayoritas peziarah nakal kerap membuang sampah, mengambil kulit kayu, dan membakar batang pohon untuk perapian. Selain itu ditemukan pula pakaian dalam perempuan dan laki-laki di aliran hulu sungai Cigentis. "Kami sudah beberapa kali mengadukan hal ini kepada KPH Purwakarta melalui Asisten Perhutani (Asper) Pangkalan, namun tidak ada tindakan nyata," ujarnya.
Melihat tidak adanya progres yang dilakukan KPH untuk melindungi gunung Sanggabuana, pihaknya bersama seluruh aktivis lingkungan berencana mengadukan hal itu ke Kementerian Kehutanan (Kemenhut). "Satu-satunya harapan kami adalah Kemenhut. Kami harap nantinya Kemenhut melakukan sidak ke Sanggabuana, agar kondisi mengkhawatirkan ini bisa ditanggulangi," paparnya.
Bahkan, beberapa waktu lalu warga beserta aparat Desa Mekarbuana sempat bermusyawarah dan meminta agar status gunung tersebut dirubah menjadi hutan lindung. "Memang Sanggabuana hingga saat ini statusnya sebagai hutan produktif, hal itupula yang menyebabkan seolah hutan ini sengaja dibiarkan. Tapi melihat kenyataan sekarang, gunung ini menjadi harapan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup, semisal kebutuhan air. Selain itu, kestabilan ekosistem yang ada, sangat berpengaruh terhadap kehidupan warga setempat," ungkapnya.
botol berserakan di puncak gunung sanggabuana
Dikatakan Kepala Desa Mekarbuana, Andi, perubahan status tersebut akan mempermudah pihaknya untuk melakukan konservasi, dan menindak pelaku perusakan hutan dengan mendirikan bangunan di wilayah Gunung Sanggabuana. "Sampai kapanpun, apabila status Sanggabuana belum berubah, maka selamanya petugas dan pemerhati lingkungan akan terkendala dalam melakukan pengarahan dan perbaikan," tandasnya.
Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sanggabuana, mengingatkan masyarakat sekitar hutan agar jangan merusak hutan di Gunung Sanggabuana. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Ketua LMDH Sanggabuana, Enim, mengatakan pihaknya terus melakukan penyuluhan dan penyadaran pada masyarakat agar lebih peduli pada kelestarian hutan yang ada di sekitar gunung Sanggabuana. Menurutnya, salah satu alasan latar belakang dibentuknya LMDH, adalah melihat kerusakan hutan yang semakin parah, maka untuk menjaga hutan diperlukan kerjasama dengan masyarakat sekitar hutan yang terangkum dalam Desa. "Mengingat keberadaan petugas di lapangan sangatlah kurang, di sisi lain hutan merupakan amanat negara pada Perusahaan Umum (Perum) Perhutani yang harus tetap terjaga," ujarnya.
Seperti telah diketahui, efek kerusakan hutan Gunung Sanggabuana mulai dirasakan masyarakat sekitar kawasan hutan. Bukan hanya longsor, saat ini beberapa sungai mulai kering. Akibatnya, masyarakat sudah tidak bisa melihat dan memanfaatkan air Sungai Cibalisuk. "Hulu Sungai Cibalisuk ada di Gunung Sanggabuana," tutur Ubuh, salah seorang aktivis Oepas Korak.
Menurutnya, meski saat ini masih sering hujan, namun ada beberapa sungai yang debit airnya justru berkurang. Seperti sungai di Sigarung yang beberapa tahun lalu debit airnya cukup banyak, hingga untuk melewatinya harus meloncat. Selain itu, Pancuran Kadijayaan saat ini sama sekali kering.
Salah satu pembina Sispala SMK Muhammadiyah Cikampek, Lukmah Buntara, mengatakan, menjadi kewajiban bagi seluruh manusia untuk mempertahankan lingkungan dalam kondisi bersih, indah dan lestari. Karena hanya dengan cara itulah keberlangsungan hidup umat manusia dapat bertahan. Lingkungan yang sudah rusak dan tercemar sudah selayaknya dikembalikan pada kondisi semula. "Hal itu semua kembali pada diri kita masing-masing, karena dengan kesadaran diri upaya melestarikan lingkungan itu dapat dijalankan," ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, RAKA belum bisa mengkonfirmasi KPH Purwakarta, Bogor, dan Cianjur. (*)

Keindahan Dibalik Kotornya Pantai Cibendo



Panorama bawah laut Pantai Cibendo, Desa Ciparagejaya, Kecamatan Tempuran, ternyata lebih indah dari pemandangan di pesisir pantainya. Karang atau tumbuhan yang bergerak lemah gemulai mengikuti arus lautan, ditambah beragam ikan luat menyambut siapa saja yang berani menyelam laut utara Karawang tersebut.

Seperti yang diceritakan pengurus Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Pengcab Kota Bogor dan klub selam Milakancana, Sarda.
Saat itu, ia bersama alumni SMAN 5 Karawang angkatan '97, Hadid Suherman, mencari tahu keberadaan Pulau Karang yang berlokasi di Desa Ciparagejaya, Kecamatan Tempuran. Survey ini dilakukan untuk mencari kebenaran tentang adanya laut yang jernih, dimana pastinya ada kehidupan panorama bawah laut di daerah tersebut. Perjalanan  dilakukan pada pukul 15.00 WIB dari Karawang kota ke Pantai Cibendo. Hanya membutuhkan waktu 1 jam, disana mereka memarkirkan mobil di depan pantai sebuah warung dekat kantor Desa Ciparagejaya. "Kebetulan sekali kami waktu itu berjumpa dengan ketua Karang Taruna Desa Ciparage, yaitu Kang Uus. Setelah Menceritakan tentang maksud dan tujuan kami, mereka bersedia membantu segala keperluan yang kami butuhkan, mulai tempat tidur untuk menginap dan juga penyewaan kapal kecil untuk mencapai Pulau Karang," ungkapnya.
Esok harinya, sekitar Pukul 05.00 WIB, mereka terbangun. Setengah jam kemudian sunrise muncul di ufuk laut timur. Sinarnya kuning kemerahan b
ersinar menghiasi permukaan laut menuju Pantai Cibendo. Setelah sarapan dan menyiapkan perlengkapan untuk selam, pukul 07.00 WIB, Hadid dan Sarda, siap berangkat dengan sebuah kapal nelayan kecil yang sudah standby di dermaga depan pelelangan ikan. Perjalanan dari Dermaga Ciparage ke Pulo Karang hanya 1 jam. Kapal tidak bisa merapat terlalu dekat dengan Pulo Karang yang dangkal, nahkoda memutuskan segera melempar jangkarnya di tempat yang spotnya bagus. Air yang jernih membuat karang di bawah laut terlihat dari atas kapal. "Segera Komandan Hadid dan Kang Uus melakukan penyelaman, sedangkan saya melakukan observasi ke tonjolan karang yang muncul dari permukaan dengan berenang, tentunya dengan alat apung yang ada saat itu yaitu polifoam yang diikat oleh tambang pada tubuh. Lumayan berenang sekitar 300 meter dari kapal, cukup melelahkan dengan arus laut yang berlawanan," ungkap Sarda.
Menurut Sarda, keadaan karang di sekitar sudah rusak dan hancur. "Menurut cerita masyarakat asli setempat, Pulau Karang dahulu adalah hamparan daratan luas berpasir yang ditumbuhi hutan bakau. Eksploitasi besar-besaran bakau, karang dan pasir membuat Pulau Karang terkikis hampir hilang. Tapi menurut Kang Uus, bukan dari penduduk dan nelayan di Ciparage yang mengambil semua itu, mereka hanya nelayan mencari ikan saja,“ ujarnya.
Setelah hampir satu jam setengah menlakukan penyelaman (diving), akhirnya Hadid muncul dari permukaan. Dia berkata “Masih bisa terselamatkan”. Sambil memperlihatkan gambar-gambar dan rekaman video yang didapatnya di bawah laut. "Alhamdulillah, survey berhasil sesuai harapan. Terumbu karang beserta biota laut yang ada di Pulau Karang adalah aset wisata bahari yang perlu dijaga dan dilestarikan. Ternyata daerah kami memiliki aset wisata bawah laut yang sangat bagus, itu karena ketidaktahuan kami selama ini. Kami akan sampaikan bukti-bukti ini kepada semua. Ini perlu dilestarikan,“ ujar Uus dan Mawardi (anggota Mapalaska Unsika) yang juga ikut dalam survey.
Dikatakan Sarda, ekosistem terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut yang penting, karena menjadi sumber kehidupan bagi beraneka ragam biota laut. Terumbu karang mempunyai fungsi yang sangat baik bagi kehidupan ini, baik dilihat dari aspek fisik ataupun dari aspek ekonomi bagi masyarakat sekitar. "Saat ini kami butuh dukungan dari semua pihak, baik dari masyarakat dan juga pemerintah daerah setempat," ungkapnya. (*)